Pencarian
Bahasa Indonesia
  • English
  • 正體中文
  • 简体中文
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Magyar
  • 日本語
  • 한국어
  • Монгол хэл
  • Âu Lạc
  • български
  • Bahasa Melayu
  • فارسی
  • Português
  • Română
  • Bahasa Indonesia
  • ไทย
  • العربية
  • Čeština
  • ਪੰਜਾਬੀ
  • Русский
  • తెలుగు లిపి
  • हिन्दी
  • Polski
  • Italiano
  • Wikang Tagalog
  • Українська Мова
  • Lainnya
  • English
  • 正體中文
  • 简体中文
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Magyar
  • 日本語
  • 한국어
  • Монгол хэл
  • Âu Lạc
  • български
  • Bahasa Melayu
  • فارسی
  • Português
  • Română
  • Bahasa Indonesia
  • ไทย
  • العربية
  • Čeština
  • ਪੰਜਾਬੀ
  • Русский
  • తెలుగు లిపి
  • हिन्दी
  • Polski
  • Italiano
  • Wikang Tagalog
  • Українська Мова
  • Lainnya
Judul
Naskah
Berikutnya
 

Perbedaan Antara Buddhisme dan Kekristenan, Bagian 5 dari 15

Details
Unduh Docx
Baca Lebih Lajut
Di episode ini, Guru menekankan pentingnya pengalaman spiritual langsung dibandingkan perdebatan filosofis dan menjelaskan bagaimana seorang Guru sejati membimbing para pencari menuju Cahaya dan Suara Surgawi batin dan ke alam-alam yang lebih tinggi.

Jadi, kami baru saja menyadari, Tanah Amitabha tampak seperti negeri dongeng. Banyak orang akan berpikir, “Wah, itu cuma imajinasi, halusinasi, atau mungkin ilusi.” Jadi, menurut beberapa penganut Kristen, Buddhisme itu semacam imajinasi, halusinasi, atau semacamnya. Tidak, tidak, tidak. Saya mengatakan kebenaran: Negeri Amitabha itu ada. Beberapa murid saya telah mengunjunginya setelah inisiasi, atau beberapa dari mereka mengunjungi tepat pada saat inisiasi, karena tak butuh waktu lama untuk mengunjungi "negeri-negeri" ini. Hanya sedetik, kamu bisa pergi, dan sedetik lagi, kamu kembali. Sepersekian detik. Semua bergantung pada keterbukaan pikiran kita atau saluran batin kita. Segalanya ada di dalam; tidak ada yang bisa kita temukan tanpa itu.

Semua tergantung pada keterbukaan saluran batin kita atau yang disebut "pikiran" kita, atau tingkat pencerahan kita. Jadi, itulah perbedaan antara halusinasi, imajinasi, ilusi, dan realitas. Jika suatu tempat hanya halusinasi atau hasil imajinasi, maka yang lain tidak bisa datang ke sana. Hanya orang itu yang bisa datang, dan dia hanya bisa datang sekali, tidak pernah dua kali, karena itu adalah mimpi, itu adalah ilusi. Namun jika tempat itu nyata, maka siapa pun bisa datang, sebelum dia, sesudah dia, atau kapan saja, dan memverifikasi keberadaan tempat tersebut. Jadi, jika kita tidak mempraktikkan cara memasuki tempat² seperti itu, maka kita tidak dapat mengetahui bahwa tempat-tempat tersebut ada.

Dan sebagian besar agama di dunia didasarkan pada semacam filsafat dan argumen, yang saling berbalas – apakah Tuhan itu ada atau tidak? Dan mengapa demikian, dan mengapa tidak demikian? Ya, saya pun tidak terkecuali. Sering kali ketika saya memberikan ceramah, saya juga harus menyampaikan pandangan dari berbagai agama dan membuat mereka mengerti bahwa apa yang dikatakan Buddha tentang Bulan, apa yang dikatakan Lao Tzu tentang Tao, dan apa yang dikatakan Tuhan Yesus tentang Surga adalah hal yang sama. Namun, bukan itu niat saya, dan bukan pula subjek yang saya sukai.

Sebenarnya, ini sulit. Dan tahukah Anda? Setelah saya wafat, orang lain yang datang harus tambahkan beberapa ucapan saya ke dalamnya agar bisa dibandingkan lagi dan meyakinkan generasi selanjutnya bahwa “[Maha] Guru Ching Hai mengatakan hal yang sama seperti Buddha, Anda tidak perlu berdebat,” dan sebagainya. Jadi, ini terus berlanjut tanpa henti. Jadi, kita memiliki banyak agama di dunia tanpa memberikan bantuan kepada yang mendambakan kebenaran.

Karena kita hanya berbicara tentang filsafat dan kita tidak menunjukkan jalan kepada orang². “Jalan” itu tidak bisa ditunjukkan melalui buku, melalui ceramah, tetapi melalui pengalaman. Itulah sebabnya Buddha berkata, “Lihatlah jariku dan kamu akan menemukan jalannya.” Oleh karena itu, jika sang ratu mengikuti Buddha, dia melihat Tanah Buddha, dia pergi bersama-Nya. Jari telunjuk hanya berarti petunjuk, atau ikuti, percayalah Sang Guru dan biarkan Sang Guru membimbing Anda ke mana pun yang sesuai untuk pencapaian spiritual Anda saat itu. Itulah arti dari jari tersebut. Nah, sang ratu, dia adalah seorang penganut Buddha yang taat, dan dia menyerahkan dirinya pada ajaran Sang Guru. Karena itu, pada hari itu di penjara, dengan hati yang sangat tulus dan penuh kerinduan, dia berdoa kepada Buddha bahwa dunia ini terlalu menyedihkan. Putra kandungnya sendiri, telah memenjarakannya. Jadi, dia merasa dunia ini penuh kesengsaraan, ketidakbahagiaan dan ketidakpastian.

Dia berdoa kepada Buddha agar dia dapat pergi ke beberapa Negeri, ke beberapa tempat di Alam Semesta yang lebih stabil, lebih penuh kasih dan penuh kebaikan. Maka Sang Buddha datang dan membawanya ke Negeri itu. Setelah kembali dari Tanah Amitabha, dia menuliskan pengalamannya. Dan ini bocor keluar. Lalu orang-orang mendapatkannya dan mencetaknya. Dan hingga hari ini kita masih memilikinya dalam bentuk aslinya yang utuh.

Namun, meskipun banyak orang mengetahui isi Sutra itu, hanya sedikit orang yang mengalami Alam Buddha Amitabha. Sama halnya dengan agama Kristen. Jika kita tidak tulus, jika kita tidak dikaruniai bakat spiritual sejak lahir, maka sulit bagi orang beragama Kristen pada umumnya untuk mengalami Surga Kedua, atau Surga Ketiga, atau Cahaya (Surgawi batin) Tuhan, atau Suara (Surgawi batin) Tuhan, yang disebutkan dalam Alkitab. Sebagai contoh, dlm agama Kristen, terdapat beberapa pengalaman mengenai Kerajaan Batin Tuhan. Seperti ketika (Tuhan) Yesus dibaptis, Dia melihat Cahaya (Surgawi batin) putih dari Surga. Roh dari Surga turun seperti seekor merpati putih.

Anda ingat? (Ya.) Nah, berapa banyak dari kita saat ini yang dibaptis dengan pengalaman yang begitu mendalam? Atau ketika Musa pergi ke Gunung Sinai, dia melihat Tuhan seperti nyala api yang besar. Maka Tuhan muncul dalam nyala api besar, Cahaya (Surgawi batin) besar. Sebenarnya, itu hanya menyebutkan Cahaya (Surgawi batin) yang besar. Tuhan adalah Cahaya (Surgawi batin) besar, dan Suara Tuhan bagaikan Suara guntur, bagaikan Suara dari banyak air. Dan Yohanes mendengar Suara terompet di Surga. Dan ada orang lain yang terjebak di Surga Ketiga, dan seterusnya. Siapa yang masih punya pengalaman seperti ini sekarang? Sangat jarang, sangat jarang.

Terdapat beberapa orang kudus yang luar biasa dalam Kerajaan Kristen, dan mereka memiliki pengalaman serupa dengan yang disebutkan dalam Alkitab. Namun, rata-rata umat Kristen atau bahkan rata-rata umat Buddha tidak dapat mengalami hal-hal tersebut. Jadi, agama tak berarti apa-apa tanpa sebuah pengalaman nyata. Jadi seseorang yang disebut "tercerahkan" adalah seseorang yang dapat pergi sesuka hati ke berbagai jenis Kediaman Cahaya, Alam Cahaya, Dunia Keberadaan Cahaya (Surgawi batin) ini. Setidaknya para murid saya yang disebut "tercerahkan". karena mereka mengalami Cahaya (Surgawi batin).

“Tercerahkan” menyiratkan bahwa Anda harus punya Cahaya (Surgawi batin) untuk jadi “tercerahkan”. Cahaya (Surgawi batin) berada di dalam diri Anda. Dalam Alkitab Kristen tertulis, “Waspadalah, supaya Cahaya dalam dirimu jangan menjadi gelap.” Ayat itu juga mengatakan, “Jika matamu tunggal, seluruh tubuhmu akan dipenuhi Cahaya.”

Itu selalu menyebutkan tentang Cahaya (Surgawi batin), tentang Cahaya (Surgawi batin), dan Cahaya (Surgawi batin). Selain itu, disebutkan juga bahwa banyak jenis Suara (Surgawi batin) Ilahi, seperti Suara guntur, Suara banyak air, Suara terompet dan harpa Surgawi, semua hal semacam ini. Kini, jika sama sekali tidak melihat Tuhan, setidaknya kita harus melihat sebagian Cahaya (Surgawi batin) Tuhan – manifestasi Tuhan – atau mendengar Musik Surgawi yang bergema dari Surga untuk meyakinkan kita bahwa kita sangat dekat dengan Surga. Sekarang, jika kita tidak melihat Buddha Amitabha atau tidak dibawa ke negeri itu, setidaknya kita melihat sebagian dari Cahaya (Surgawi batin) dari Buddha Amitabha. Karena “Amitabha” berarti “Cahaya tak terbatas”. Atau setidaknya kita mendengar beberapa Suara (Surgawi batin) – Suara dari Alam Amitabha, Suara (Surgawi batin) dari nyanyian (insan-)burung, Suara (Surgawi batin) dedaunan, dan Suara (Surgawi batin) dari semua (insan-)hewan, atau para Buddha yang menyampaikan Dharma, memberikan Ajaran. Setidaknya kita mendengar dari jauh sehingga kita tahu bahwa kita sangat dekat dengan Tanah Buddha, atau kita berhubungan dengan perbatasan Tanah Buddha. Jika tidak, bagaimana kita bisa tahu apa Tuhan itu ada, apa Buddha itu ada, apakah Tanah Buddha itu ada?

Ada satu hal lagi yang ingin saya sebutkan tentang Buddha Amitabha. Disebutkan dalam sutra bahwa Amitabha, ketika Beliau masih dalam wujud manusia, ketika Beliau menjalankan praktik sebagai seorang Santo, seorang yogi, Beliau memiliki 48 sumpah. Salah satu sumpah-Nya adalah ini: Jika siapapun mendengar nama-Nya, berdoa kepada-Nya bahkan sekali saja pada saat kematian – dengan tulus, tentu saja, dan dengan sepenuh hati serta kerinduan – Dia akan membawa orang itu ke Tanah Amitabha, ke Tanah-Nya. Namun, Tanah-Nya menurut sutra, bukanlah tanah yang sudah jadi, atau tanah yang dibeli dari supermarket, atau yang sudah kosong ada di sana dan menunggu. Tanah-Nya telah diciptakan dari Kekuatan Rohani-Nya sendiri – dari latihan dan kedisiplinan-Nya sendiri.

Nah, inilah apa yang membuat Buddhisme berbeda dari Kekristenan. Hal ini semata-mata karena Kristus tidak punya cukup waktu untuk menjelaskan secara rinci apa yang Dia maksudkan dalam paragraf-paragraf yang begitu singkat. Atau mungkin Dia telah menjelaskan, tetapi informasi itu terlalu banyak bagi gereja dan mereka memangkasnya. Atau mungkin Dia telah menjelaskan, tetapi otoritas yang berkuasa telah menghapusnya. Apa pun bisa terjadi; apa pun.

Sekarang izinkan saya bercerita tentang Buddha Amitabha. Jadi, saat Beliau lakukan pertapaan dan kebajikan meditasi, Dia bersumpah bahwa Tanah-Nya, Tanah ciptaan-Nya sendiri, kelak akan semurni kristal, seberharga berlian, dan setiap orang selalu dapat pergi ke sana, jika mereka dengan tulus menginginkannya.

Jadi, apa gunanya saya menceritakan ini kepada Anda? Seperti ini: seorang Guru agung yang penuh kebajikan dan kekuasaan dapat membawa kita ke Tanah-Nya. Dia bisa ciptakan Surga baru bagi kita. Sama seperti Tuhan Yesus katakan, “Di Rumah Bapa-Ku ada banyak Tempat Tinggal.”

Photo Caption: “Jarak Hanyalah Hal Fisik”

Unduh Foto   

Tonton Lebih Banyak
Semua bagian (5/15)
1
Kata-kata Bijak
2026-06-08
1801 Tampilan
2
Kata-kata Bijak
2026-06-09
1282 Tampilan
3
Kata-kata Bijak
2026-06-10
1187 Tampilan
4
Kata-kata Bijak
2026-06-11
970 Tampilan
5
Kata-kata Bijak
2026-06-12
726 Tampilan
6
Kata-kata Bijak
2026-06-13
429 Tampilan
Tonton Lebih Banyak
Video Terbaru
Kata-kata Bijak
2026-06-13
429 Tampilan
Antara Guru dan Murid
2026-06-13
483 Tampilan
Berita Patut Disimak
2026-06-12
516 Tampilan
40:50
Berita Patut Disimak
2026-06-12
1 Tampilan
Kata-kata Bijak
2026-06-12
726 Tampilan
Kecantikan Alam
2026-06-12
1 Tampilan
Dunia Satwa: Sesama Penghuni Kita
2026-06-12
1 Tampilan
Antara Guru dan Murid
2026-06-12
933 Tampilan
Bagikan
Bagikan ke
Lampirkan
Mulai pada
Unduh
Mobile
Mobile
iPhone
Android
Tonton di peramban seluler
GO
GO
Aplikasi
Pindai kode QR, atau pilih sistem telepon yang tepat untuk mengunduh
iPhone
Android
Prompt
OK
Unduh